Ki Hadjar Dewantara Menangis

5897_dari_mana_nama_ki_hajar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam 15 hari ini ada dua tokoh sentral dalam pendidikan Indonesia. Pertama ada tokoh R.A Kartini pahlawan emansipasi wanita, dan yang kedua adalah Ki Hadjar Dewantara tokoh pendiri Taman Siswa yang terkenal dengan semboyan : Suci Tata Ngesti Tunggal, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Andayani, Mengabdi kepada sang Anak. Semboyan yang sangat dipegang teguh oleh pamong-pamong Taman Siswa yang melaksanakan tugasnya.

Kini setelah 125 tahun, Apakah dunia pendidikan masih menjiwai spirit bapak pendidikan? Ataukah pendidikan sudah menjadi lahan bisnis dan semboyan “kecuanan (keuntungan) yang maha kuasa menjadi inspirasi mendirikan sekolah-sekolah baru dengan label internasional? Hanya pelaku/pemilik sekolah yang tahu.

Pertanyaannya. “Sudahkah semboyan Ki Hadjar Dewantara ada di sekolah kita. Apakah guru dan tenaga pendidik sudah menjadi inspirator anak untuk belajar? Apakah bapak ibu guru sudah menjadi pendamping, pembimbing dan orang tua dan teman disekolah?” Pertanyaan ini yang dikemukakan oleh Drs. Antonius Riyanto, Pembina upacara peringatan hardiknas 2 Mei 2014 di lapangan SMA Katolik Stella Maris. “Kalau sekarang ada demam selfie,  guru-gurunya juga harusnya ikut berselfie,  Perlu melihat dan memotret diri sendiri.” Lanjut beliau serius.

“Ini bukan sekolah yang mahal tetapi juga bukan sekolah yang murah? Pastikan, setiap rupiah yang dibayarkan oleh orangtua itu sangat berarti. Sekolah tidak hanya menawarkan jasa dan siswa menjadi obyek tetapi keduanya harus ada imbal balik. Guru wajib memberikan yang terbaik untuk siswa, maka hukum penawaran dan permintaan harus berimbang.” Tegas guru yang juga mengajar Ekonomi penuh semangat.

“Non scholae, sed Vitae Discimus” konsep pendidikan harusnya menuntut 3 hal; pertama, sikap sebagai manusia yang baik, kedua, ketrampilan sebagai manusia yang mempunya bekal hidup secara tekhnis, serta ketiga, pengetahuan untuk menjalani proses kehidupan dengan kemampuan intelektual yang bagus. Tetapi yang ada di negeri kita sekarang adalah kemampuan intelektual yang ditandai dengan nilai yang tinggi melalui standarisasi nilai Unas tanpa standarisasi proses pendidikan. Sehingga pelajar tidak hanya dituntut kemampuan akademis yang menghalalkan segala cara seperti untuk dapat nilai bagus siswa harus bimbel, membeli kunci jawaban unas dari joki gosok seperti yang ramai di beritakan akhir-akhir ini.

Mungkin saja jika R.A. Kartini dan Ki Hadjar Dewantara masih hidup,mereka akan sangat prihatin dan bahkan menangis melihat rakyatnya masih banyak yang belum bisa menikmati pendidikan seperti apa yang mereka cita-citakan.

Diakhir sambutannya, beliau juga menekankan pentingnya mempersiapkan diri untuk menghadapi evaluasi akhir tahun pelajaran. “bertanyalah kepada guru anda jika ada yang tidak beres, terus mengasah diri dibawa dampingan bapak dan ibu guru”. Pungkas beliau. “Pelajar Stella Maris… Yeees!!!” (kama)

1 Comment
  1. Sip…

Tinggalkan Balasan

Pengunjung





SMAK Stella Maris

Jl.Indrapura No 32
Surabaya -60175
Telp : 031-3522174
Fax : 031-3521275
e-mail: smastellamaris@yahoo.co.id